Kisah Sukses Nagari III Koto Aur Malintang Selatan Dalam Pengelolaan Dana Desa

Kab. Padang Pariaman -Tim Monev Dana Desa dari KPPN Padang disambut oleh Wali Nagari dan Sekretaris Nagari saat melakukan monitoring dan evaluasi penggunaan dana desa di Nagari III Koto Aur Malintang Selatan. (30/10)

Mendung menggantung di ranah Minang. Segalanya nampak basah karena hujan ringan mengguyur sejak semalam hingga pagi hari tadi, untungnya hujan hanya sesekali turun sejak kami dalam perjalanan dari kota Padang menuju ke Nagari III Koto Aur Malintang Selatan. Pepohonan mulai menampakkan daun-daunnya yang baru kuncup, rerumputan berebutan untuk tumbuh menghijau di pinggir-pinggir jalan dan yang terpenting tahun ini sudah tidak ada asap lagi yang menggantung di langit Sumatera Barat.

Di sela kehidupan yang sedang dalam titik awal, ada harapan yang kembali bangkit, tanaman-tanaman di kebun warga menghijau lebat dan mulai menampakkan hasilnya. Di sini, di NagariIII Koto Aur Malintang Selatan di Kabupaten Padang Pariaman, kami menemukan suasana yang cukup baru, yaitu banyaknya jalan beton yang menghiasi jalan-jalan kecil yang menurut informasi yang kami dapatkan adalah hasil dari Dana Desa yang sudah tersalur beberapa tahun belakangan. Sebenarnya ini bukanlah “Desa” seperti kebanyakan orang bilang di Jawasana, ini adalah Nagari, sebuah kesatuan dari beberapa jorong/korong yang luasnya lebih luas dari “desa” yang kita tahu, dan lebih kecil dari kecamatan. Di sini tidak ada desa, yang ada adalah Nagari yang memang sebenarnya terlalu luas untuk disebut sebagai desa, juga tidak ada RT maupun RW.

Perjalanan bermula tatkala kami mengendarai mobil Panther tua kantor dan menempuh jarak kurang lebihnya 80 kilometer dari pusat kota Padang, itu artinya sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari kota Padang ke Nagari III Koto Aur MalintangSelatan di Padang Pariaman. Ruas jalan dari Kota Padang ke Kabupaten Padang Pariaman kondisinya cukup baik, walaupun di beberapa titik ada perbaikan aspal karena sekarang sedang menyongsong event tahunan Tour de Singkarak,dan kondisi aspal jalan untuk masuk ke Nagari III Koto Aur Malintang Selatan sejak jalan besar Pariaman-Lubuk Basung hingga kami sampai ke Kantor Walinagari cukup baik juga walaupun terlihat ini adalah aspal lama.Sepanjang perjalanan itu yang kami lihat adalah kebun-kebun warga yang hijau dan pohon kelapa yang menjulang tinggi. Banyak pohon kelapa yang tinggi di sini, karena konsumsi kelapa di Minang ini pun sangat tinggi.

Sampai di area pusat pemerintahan nagari, kami mendapati sungai yang jernih airnya, yang belakangan kami tahu terdapat Ikan Larangan di dalamnya, dan pasar desa yang cukup ramai. Kantor walinagari berada cukup tinggi dari jalan dengan arsitektur khas Minang (bagonjong), sehingga jika dilihat nampak tradisional dan modern sekaligus. Kami harus naik tangga beton untuk sampai ke kantor karena mobil tidak bisa naik. Tepat dibawah halaman kantor, terdapat semacam bangunan toko yang memiliki sepanduk bertuliskan Badan Usaha Milik Nagari atau disingkat BUMNag. Bangunan itu nampak baru dan belum sepenuhnya beroperasi, dan yang kami tahu kemudian, bahwa BUMNag itu akan melakukan usaha jual-beli sembako yang bekerja sama dengan Bulog, mengelola simpan-pinjam warga, dan usaha pelestarian ikan larangan di sungai setempat.

Kami disambut hangat oleh seseorang yang tak lain adalah Sekretaris Nagari. Di depan kantor terpampang jelas APBNag dalam bentuk sepanduk yang cukup rinci dan informatif. Pak Sekretaris Nagari mempersilakan kami masuk ke kantor dan tak lama kemudian, Pak Walinagari muncul.

Sesekali mendung dan terik silih berganti menghiasi langit, seduhan kopi susu menyambut kami di tengah cuaca yang kadang panas kadang dingin, sesekali hujan turun namun kemudian terik matahari muncul. Nagari ini letaknya cukup tinggi dan berbukit-bukit, karena itu cuacanya pun memang lebih sering mendung.Walinagari, Pak Edi Kusasih, mempersilakan kami untuk istirahat sejenak dan duduk di bangku panjang di ruangannya. Di sana beliau bersama Pak Armontoni, Sekretaris Nagari, berbincang kepada kami dan menjelaskan mengenai Nagari III Koto Aur Malintang Selatan. Sesekali tawa menyeruak mengisi ruangan di dalam Kantor Walinagari. Lalu kami pun mulai bertanya mengenai Dana Desa yang sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini.

Nagari ini dikepalai oleh seorang Walinagari yang dipilih oleh warga nagari secara pemilihan umum. Sekarang sudah banyak nagari yang dipilih dengan cara pemilihan umum seperti desa-desa pada umumnya di jawa. Jaman dulu, walinagari dipilih berdasarkan musyawarah para datuk di nagari. Umumnya dalam sebuah nagari terdapat beberapa suku, dari masing masing suku ada seorang datuk, atau orang yang dituakan. Seorang datuk bukanlah orang sembarangan, karena dia haruslah pandai dalam urusan sosial dan keagamaan serta berwatak bijak. Setiap ada pemilihan seorang datuk dari satu suku, akan ada upacara potong kerbau yang akan berujung pada acara makan besar di suku itu. Sedangkan walinagari adalah orang yang dipilih berdasarkan musyawarah para datuk di nagari itu, biasanya dijabat secara bergiliran oleh datuk dalam periode tertentu. Namun sekarang, sudah banyak nagari tidak memakai sistem itu lagi dan memakai pemilihan umum untuk menentukan walinagari.

Obrolan kami berjalan santai sambil sesekali diselingi canda tawa. Kami mengajukan beberapa pertanyaan umum mengenai kendala dalam penyaluran Dana Desa yang dialami, namun ternyata tidak ada kendala berarti. Bahkan, ternyata Nagari III Koto Aur Malintang Selatan meraih penghargaan sebagai Juara I Nagari Berprestasi dari Kabupaten Padang Pariaman. Mereka mengaku sudah selesai melaksanakan kegiatan Dana Desa tahap I dan sudah mengirimkan laporan ke Kabupaten hampir 2 bulan lalu. Itu artinya kegiatan yang bersumber dari Dana Desa sudah terserap 100 persen untuk tahap I tahun 2017. Dari segi pengelolaan pun tidak mengalami kendala berarti, karena mereka sudah terlatih dalam mengoperasikan Aplikasi Siskeudes.

Penggunaan Dana Desa di Nagari III Koto Aur Malintang Selatan ini terbagi menjadi dua, yakni pengerjaan fisik dan non fisik. Dari penjelasan Pak Armantoni, sudah banyak proyek desa yang dilaksanakan dan salah satunya yang mereka banggakan adalah pembuatan rabat beton untuk beberapa ruas jalan desa, yang kami dipersilakan untuk melihatnya. Sesekali kami melihat keluar untuk mengecek apakah hujan atau tidak karena cuaca sedang tak menentu dan kami ingin segera melihat hasil proyek Dana Desa selama hampir 3 tahun belakangan ini, sambil menikmati kopi susu, kami melanjutkan perbincangan kami. Selain digunakan untuk pekerjaan fisik, di bidang non fisik Dana Desa juga dimanfaatkan untuk kegiatan pemberdayaan, seperti penyelenggaraan Taman Pembelajaran Qur’an (TPQ) yang diselenggarakan di masjid, posyandu, dan BUMNag. Terdapat 24 posyandu di seluruh area Nagari, namun persebarannya belum merata, oleh karena itu pemerintahan nagari sedang berusaha untuk membangun posyandu-posyandu di beberapa korong yang masih kekurangan posyandu.

Mengenai BUMNag, baru tahun 2017 ini dibentuk karena menurut penuturan Pak Toni baru ada aturan mengenai BUMNag pada tahun ini. Nantinya BUMNag ini diharapkan sebagai sumber pendapatan Nagari yang dananya akan terus diputar agar perekonomian Nagari terus meningkat. BUMNag akan melaksanakan kegiatan jual-beli kebutuhan pokok warga dan pengelolaan simpan-pinjam. Yang patut dicermati, BUMNag juga akan ikut melestarikan budidaya Ikan Larangan yang berada di sungai-sungai di area Nagari, salah satunya yang kami lihat adalah sungai geringging yang berada tak jauh dari kantor Walinagari. Di sungai tersebut, ikan larangan hidup tanpa keramba dan akan dipanen bersama-sama setahun sekali.

Dari informasi yang kami dapatkan, Dana Desa yang mereka dapatkan tahun ini adalah Rp 1.061.732.441, itu belum termasuk Alokasi Dana Nagari dari pemda provinsi dan kabupaten yang jumlahnya Rp 1.144.476.294. Telah banyak perubahan yang terjadi sejak Dana Desa pertama kali muncul di tahun 2015, yaitu makin banyaknya jalan desa yang dibeton, dan saluran irigasi yang baru. Kami berkesempatan melihat-lihat rabat beton di jalan-jalan desa yang terlihat masih cukup baru dan juga saluran irigasi di area dekat dengan Kantor Walinagari. Jalan-jalan desa yang panjangnya ratusan meter itu kini sudah tidak becek berlumpur lagi. Terdapat pembukaan jalan yang baru untuk menyediakan akses bagi petani sehingga akses ke sawah semakin mudah, dan juga saluran irigasi baru yang lebih lebar untuk mengairi sawah-sawah mereka. Luas Nagari ini mencapai 35,4 KM2 dan luas sawah mencapai 640 Ha. Selain irigasi dari Dana Desa, terdapat pula beberapa areal persawahan yang memiliki sistem irigasi yang dibangun oleh Dinas PU Kabupaten.

Tak terasa matahari telah semakin condong ke barat dan waktu menunjukkan pukul 14.00. Hari tak lagi hujan dan sudah berganti dengan teriknya matahari. Sebenarnya belum semua hasil dari Dana Desa kami tinjau karena keterbatasan waktu dan juga area Nagari yang cukup luas untuk kami kunjungi. Kami berkesempatan untuk mampir kembali ke kantor Walinagari berfoto bersama dan mengobrol sejenak sebelum kami berpamitan.

Pembangunan infrastruktur Nagari yang cukup pesat yang kami lihat dari laporan dan tinjauan kami di lapangan telah membuka mata kami lebih lebar bahwa penyaluran Dana Desa ini bukanlah sesuatu hal yang main-main. Pemerintah Pusat telah mengupayakan banyak hal demi menyalurkan Dana Desa demi pembangunan dari level bawah, baik infrastruktur maupun pemberdayaan masyarakat. Semoga Dana Desa dapat terus dimanfaatkan dengan baik dan mendorong agar pertumbuhan ekonomi masyarakat semakin maju. (sav)